JAKARTA - Merajut asa untuk masa depan pendidikan yang lebih cerah, Jasa Raharja kembali menunjukkan kepeduliannya dengan menyalurkan bantuan rehabilitasi fasilitas pendidikan di Nusa Tenggara Barat. Kali ini, Madrasah Ibtidaiyah Al-Ma’arif Nurul Yaqin Sepit di Lombok Tengah menjadi penerima manfaat, sebuah langkah nyata yang menegaskan komitmen perusahaan dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berkelanjutan.
Kepedulian ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah investasi mendalam terhadap generasi penerus bangsa. Bayangkan betapa senangnya anak-anak kita bisa belajar di tempat yang aman dan nyaman setelah fasilitas mereka diperbaiki. Saya membayangkan tawa riang dan semangat belajar yang membuncah di setiap sudut sekolah yang kini lebih layak.
Kegiatan penting ini, yang dilaksanakan pada Rabu lalu yang dihadiri langsung oleh Direktur Hubungan Kelembagaan Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, didampingi oleh Kepala Kantor Wilayah Jasa Raharja Nusa Tenggara Barat, Soleh, beserta Tim Divisi TJSL Kantor Pusat. Kehadiran para petinggi perusahaan ini menjadi bukti keseriusan Jasa Raharja dalam memastikan setiap program TJSL benar-benar menyentuh dan memberikan dampak positif yang berkelanjutan.
Bantuan yang diberikan difokuskan pada perbaikan sarana dan prasarana sekolah. Perbaikan ini krusial untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga layak bagi para siswa. Ini sejalan dengan peran Jasa Raharja sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang turut menjadi bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui akses pendidikan yang lebih baik, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan.
Kondisi pendidikan di Nusa Tenggara Barat memang masih menghadapi berbagai tantangan. Data dari Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, pada periode 2024–2025 mengungkap adanya sekitar 4.104 ruang kelas yang dalam kondisi rusak. Ditambah lagi dengan keterbatasan daya tampung jenjang pendidikan menengah, di mana hanya terdapat 801 unit SMA, SMK, dan SLB, yang belum mampu menampung seluruh kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, revitalisasi sekolah menjadi prioritas yang sangat mendesak.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Hubungan Kelembagaan Jasa Raharja, Dewi Aryani Suzana, menekankan bahwa bantuan ini memiliki makna yang lebih luas dari sekadar perbaikan fisik.
