Jakarta - Di ruang redaksi yang dulu riuh oleh bunyi ketikan, kini ada suara lain yang pelan tapi pasti: dengung mesin, notifikasi aplikasi, dan hasil tulisan instan yang rapi secara struktur, tapi terasa dingin secara rasa. Wajah jurnalisme seolah mengalami retak halus. Bukan karena kurang idealisme, melainkan karena perubahan zaman yang datang terlalu cepat, terlalu kuat, dan kadang terasa mencekik.
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masuk ke dunia jurnalistik seperti gelombang besar. Ia menjanjikan kecepatan, efisiensi, dan kemudahan. Dalam hitungan detik, ringkasan berita bisa jadi. Dalam beberapa klik, laporan bisa dirapikan. Bahkan, judul pun bisa disarankan oleh mesin. Di satu sisi, ini kemajuan. Tapi di sisi lain, banyak jurnalis mulai bertanya dalam hati: masih perlukah keringat, liputan panjang, dan pergulatan batin dalam menulis?
Di lapangan, jurnalis bukan sekadar pengumpul kata. Ia menyerap suasana, membaca ekspresi, menangkap getar suara narasumber, dan merangkai fakta dengan nurani. Semua itu tidak bisa sepenuhnya diterjemahkan oleh algoritma. AI bisa meniru gaya, tapi tidak bisa merasakan kecemasan ibu yang kehilangan anak, atau amarah warga yang tanahnya dirampas. Di situlah jurnalisme seharusnya berdiri: di antara data dan kemanusiaan.
Namun realitas industri media tidak selalu ramah. Target klik, kejar tayang, dan tuntutan produksi cepat membuat banyak redaksi tergoda menyerahkan sebagian pekerjaan kepada mesin. Perlahan, jurnalis bukan lagi subjek utama, tapi hanya operator. Wajah profesi ini pun seperti retak. Bukan hancur, tapi jelas berubah. Ada garis-garis kegelisahan yang makin tampak.
Bahaya terbesar bukan pada AI-nya, melainkan pada cara kita menyerahkan nurani kepada teknologi. Ketika verifikasi dianggap bisa digantikan oleh ringkasan otomatis. Ketika kedalaman liputan dikalahkan oleh kecepatan unggah. Saat itu, jurnalis benar-benar sedang dicekik, bukan oleh tangan, tapi oleh sistem yang memuja efisiensi tanpa peduli makna.
Padahal, sejarah pers dibangun dari keberanian manusia. Dari wartawan yang turun ke medan konflik, dari reporter yang menggigil di tengah hujan demi satu kutipan penting, dari penulis yang bertarung dengan rasa takut demi menyampaikan kebenaran. Semua itu tidak lahir dari baris kode. Semua itu lahir dari hati dan tanggung jawab moral.
AI seharusnya menjadi alat, bukan tuan. Ia bisa membantu merapikan data, mempercepat riset, atau menyusun kerangka awal. Tapi keputusan akhir, sudut pandang, dan keberpihakan pada kebenaran tetap harus berada di tangan jurnalis. Jika tidak, maka yang terjadi bukan lagi jurnalisme, melainkan sekadar produksi teks tanpa jiwa.
Wajah jurnalisme hari ini memang sedang diuji. Retak-retak itu nyata. Tapi retak bukan berarti runtuh. Justru di sanalah pilihan harus dibuat: menyerah pada kemudahan, atau berdiri tegak menjaga martabat profesi. Jurnalis tidak boleh hilang di balik layar teknologi. Karena ketika nurani digantikan oleh mesin, yang mati bukan hanya profesi, tapi juga kepercayaan publik.
Di tengah derasnya arus AI, jurnalis dituntut bukan untuk kalah, melainkan untuk lebih manusiawi. Lebih jujur, lebih berani, dan lebih setia pada kebenaran. Sebab pada akhirnya, yang dicari pembaca bukan hanya informasi cepat, tapi cerita yang punya makna dan bisa dipercaya.
(Lindafang)
.
