Palembang-Jam di layar ponsel menunjukkan pukul 06.21. Pagi masih setengah mengantuk, tapi roda sudah lama berputar. Kami bertiga, saya, Lindafang, Gusnia, dan Miss, melaju menuju penyebrangan Merak. Tujuan kami satu: Serang, Banten, tempat Hari Pers Nasional (HPN) 2026 akan digelar.
Perjalanan ini berangkat dari hari Rabu tanggal 4 Februari 2206 bukan sekadar pindah kota. Ini adalah perjalanan batin para jurnalis, antara lelah dan harap, antara mual dan tekad.
Di dalam kendaraan, tubuh terasa tak sepenuhnya bersahabat. Kepala pusing, perut bergejolak. Mabuk darat, istilah sederhananya. Tapi di balik rasa tak nyaman itu, mata justru dimanjakan oleh pemandangan yang silih berganti. Langit pagi yang perlahan membuka tirai, jalan panjang yang seperti tak ada ujungnya, dan obrolan kecil yang sesekali pecah, menertawakan lelah kami sendiri.
“Capek iya, tapi sayang kalau dilewatkan, ” mungkin itu kalimat yang paling jujur untuk menggambarkan perjalanan ini.

Kami berangkat untuk mengikuti rangkaian HPN bersama SMSI dan PWI, dengan puncak acara pada 9 Februari 2026. Bagi orang lain, ini mungkin hanya agenda tahunan.
Tapi bagi kami, ini adalah perayaan kecil atas profesi yang sering kali lebih akrab dengan deadline daripada tepuk tangan, lebih sering bergulat dengan hujan dan panas daripada panggung kehormatan.
|
Baca juga:
Ketika Ekonomi Mulai Berbisik
|
Di balik kemudi dan di balik rasa mual yang tak kunjung sepenuhnya hilang, ada satu kesadaran sederhana: pers tidak dibangun dari kenyamanan. Ia lahir dari perjalanan-perjalanan panjang, dari liputan yang menguras tenaga, dari komitmen untuk tetap berangkat meski badan berkata “istirahatlah”.
Menjelang Merak, rasa lelah itu seperti menemukan teman. Kami sama-sama diam sejenak, menatap jalan, menyiapkan diri untuk menyeberang, bukan hanya secara geografis, tapi juga secara makna. Menyeberang dari rutinitas ke perayaan, dari kerja sunyi ke panggung kebersamaan insan pers.
HPN bukan sekadar seremoni. Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap berita, ada manusia dengan tubuh yang bisa lelah, kepala yang bisa pusing, dan perut yang bisa mual. Tapi juga ada idealisme yang membuat semua itu tetap layak dijalani.
Dan di pagi yang masih muda itu, di tengah perjalanan menuju Serang, kami belajar satu hal kecil namun penting: kadang, mencintai profesi berarti tetap melaju, meski tubuh meminta berhenti. Karena di ujung perjalanan, selalu ada cerita yang pantas diperjuangkan.(Lindafang)
.

Updates.