Menanti Pulihnya Lembah Anai, Hotel Santika Bertahan di Tengah Sepinya Wisata Bukittinggi

    Menanti Pulihnya Lembah Anai, Hotel Santika Bertahan di Tengah Sepinya Wisata Bukittinggi
    Bincang bincang sore bersama GM Hotel Santika dan awak media SMSI Bukittinggi

    Bukittinggi — Sepinya lalu lintas wisatawan menuju Bukittinggi masih terasa hingga kini. Bagi pelaku perhotelan, kondisi ini bukan sekadar angka okupansi yang menurun, tetapi juga perjuangan mempertahankan denyut pariwisata kota bersejarah di Sumatera Barat. Salah satu penyebab utamanya adalah belum normalnya akses jalan Lembah Anai, jalur vital yang menghubungkan Bukittinggi dengan daerah luar.

    Manager Hotel Santika Bukittinggi, Alik Hidayat, mengakui bahwa dampak kerusakan akses tersebut sangat terasa bagi sektor perhotelan.

    “Selama jalan Lembah Anai belum normal, dampaknya sangat terasa terhadap tingkat hunian hotel. Ini menjadi faktor utama, ” ujarnya saat ditemui awak media, Rabu sore (27/1/2026).

    Di tengah tantangan tersebut, Hotel Santika Bukittinggi memilih untuk tetap bergerak. Menyambut bulan suci Ramadan, manajemen hotel menghadirkan berbagai promo sebagai upaya menjaga minat kunjungan wisatawan. Paket kamar Deluxe ditawarkan mulai dari Rp800 ribu per malam, lebih rendah dibanding harga normal yang mencapai Rp1, 2 juta.

    Tak hanya itu, tersedia pula paket lengkap Ramadan seharga Rp1.599.000 per malam yang sudah mencakup kamar Deluxe, berbuka puasa, serta sahur atau sarapan pagi.

    Bagi masyarakat yang ingin menikmati suasana berbuka puasa, Sky Lounge Restaurant di lantai 9 Hotel Santika Bukittinggi menawarkan paket berbuka seharga Rp180 ribu per orang. Harga tersebut bahkan bisa lebih hemat menjadi Rp162 ribu jika pemesanan dilakukan melalui aplikasi MySantika dengan program MyValue.

    Namun, bagi Alik, promosi hotel saja tidak cukup. Ia menilai pembenahan sektor pariwisata Kota Bukittinggi harus dilakukan secara menyeluruh, terutama dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan destinasi unggulan seperti Panorama dan Lobang Jepang.
    “Kebersihan harus menjadi perhatian utama. Ini bukan hanya penilaian kami, tapi juga masukan langsung dari para tamu, ” katanya.

    Menurutnya, membangun destinasi wisata bukanlah bagian tersulit. Tantangan sebenarnya justru terletak pada pengelolaan dan perawatan yang berkelanjutan.

    “Membangun itu mudah, tapi mengelola dan merawatnya yang sulit. Destinasi yang sudah ada harus diperkuat, kebersihannya dijaga, dan nilai heritage-nya dipelihara, ” tambahnya.

    Selain itu, Alik berharap pemerintah dan pemangku kepentingan dapat menghadirkan event-event olahraga atau kegiatan berskala besar yang mampu menarik kunjungan wisatawan dalam jumlah besar ke Bukittinggi.

    Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, Hotel Santika Bukittinggi tetap berkomitmen menjaga keberlangsungan tenaga kerja. Dengan 82 karyawan yang dimiliki saat ini, manajemen berupaya keras agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja.

    Di balik promo dan strategi bertahan, harapan besar tetap tertuju pada satu hal: pulihnya akses Lembah Anai, agar arus wisata kembali hidup dan Bukittinggi kembali ramai seperti sediakala.
    (Lindafang)

    bukittinggi sumatera barat
    Linda Sari

    Linda Sari

    Artikel Sebelumnya

    Jasa Raharja Sumbar Hadiri Peresmian Gedung...

    Artikel Berikutnya

    Mahasiswi Penghafal Al Quran 30 Juz Asal...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Bidkeu Polda Sumbar Evaluasi IKPA dan Tukin 2025 untuk Perkuat Akuntabilitas Anggaran
    Biddokkes Polda Sumbar Buka Layanan Pengobatan Gratis bagi Korban Banjir di Padang
    Syafril, SE Dt Rajo Api: Pembelian Kendaraan Dinas Baru Dapat Dimaklumi, Tapi Pokir yang Sudah Masuk APBD Tidak Dikerjakan Sebuah Kezaliman
    Tony Rosyid: Mau Mengganti Oligarki atau Melenyapkan Oligarki?
    Gagal Kabur ke Bengkulu, Polisi Ringkus Komplotan Curanmor Lintas Provinsi di Pesisir Selatan

    Ikuti Kami